Tuesday, February 12, 2019


Jangan Duakan aku
Wahai ruh yang kusayangi,
            Ketika aku menciptakanmu dengan segumpal darah, aku takdirkan kamu  .Suci, tanpa ada corengan ataupun noda setitikpun, hingga pada saatnya, kau menilik indahnya hamparan dunia, kutitipkan kau pada dua malaikat suci yang akan menjawab semua pertanyaan polosmu, dan mengajari kebaikan apapun padamu.
Seiring waktu berlari…
            Segumpal darah itu telah menjadi sesosok pribadi.Kini, kau mulai meraba, menebak dan selalu bertanya, tak jarang kau tersandung problema kehidupan, tapi kau tak mengibarkan bendera putih, kau tetap berjalan lurus menuju titik tujuanmu, menerjang semua kerikil dan batu, sesekali kau merintih, tapi kau tunjukkan ketegaranmu. Zaman temukan oleh waktu, kau telah menjadi seseorang yang tegak berdiri, kau kerjakan tugas duniamu dengan baik, dan bagus. Tapi apakah kau menyadari…
            Dirimu tenggelam dalam kenikmatan duniawi, sibuk dengan urusanmu, sehingga kau duakanaku .Kau korbankan menit pertemuan kita dengan semua aktivitasmu, padahal waktu waktu kita untuk berkomunikasi tidaklah banyak, hanya beberapa menit saja. Kau dahulukan urusan kantong yang membuatmu bahagia, kau dengarkan bisikan jahat setan dan kau tepis perkataan lirih hati nuranimu, padahal tahukan engkau?Mereka tertawa terbahak-bahak karena sukses menggagalkan pertemuan kita. Ku panggilkau 5 kali sehari, tapi satupun kau gabris panggilanku.
            Tidak ingatkah engkau denganku? Mengapa kau dengarkan bisikan jahat setan yang menjerumuskanmu? Ku lepaskan kau di dunia.Untuk mencari ridhaku, tapi kau tersesat dalam lubang kebahagiaan dunia yang tidak hakiki, mengapa kau tidak bias bersabar sebentar saja untuk mendapatkan kemenangan yang abadi?.Tidak ada kata terlambat untuk kembali kejalanKu, datanglah, kemarilah padaku, aku tidak akan menutup pintu, sampai batas waktu yang telah kujanjikan. Jadilah orang-orang yang tersenyum dikehidupan selanjutnya, aku selalu menyambutmu dengan gembira.
            Saudara-saudaraku, tidakkah kita menyadari, bahwa kita telahdimabuk cinta, menikmati pestapora dunia yang dapat menjerumuskan kita pada kenistaan dosa, terjebak dalam indahnya sandiwara dunia, dan lupa dengan kekuasaan Sang Pencipta. Ingatlah, dunia adalah tempat kita untuk menuai hasil. Mari kita benahi diri, menjadi pribadi yang diridhai Ilahi, merambat dengan pasti dan merapatkan jiwa meraih kenikmatan abadi yang tak terperi.
            Jikalau seorang hamba itu mendekat padaku sejengkal, maka aku mendekat padanya sehasta dan jikalau dia mendekat padaku sehasta, maka aku mendekat padanya sedepa, jikalau hamba itu mendatangi aku dengan berjalan, maka aku mendatanginya dengan bergegas (HR.Bukhari)

No comments:

Post a Comment