Wahai ruh yang kusayangi,
Ketika
aku menciptakanmu dengan segumpal darah, aku takdirkan kamu .Suci, tanpa ada corengan ataupun noda setitikpun,
hingga pada saatnya, kau menilik indahnya hamparan dunia, kutitipkan kau pada dua
malaikat suci yang akan menjawab semua pertanyaan polosmu, dan mengajari kebaikan
apapun padamu.
Seiring waktu berlari…
Segumpal
darah itu telah menjadi sesosok pribadi.Kini, kau mulai meraba, menebak dan selalu
bertanya, tak jarang kau tersandung problema kehidupan, tapi kau tak mengibarkan
bendera putih, kau tetap berjalan lurus menuju titik tujuanmu, menerjang semua kerikil
dan batu, sesekali kau merintih, tapi kau tunjukkan ketegaranmu. Zaman temukan oleh
waktu, kau telah menjadi seseorang yang tegak berdiri, kau kerjakan tugas duniamu
dengan baik, dan bagus. Tapi apakah kau menyadari…
Dirimu
tenggelam dalam kenikmatan duniawi, sibuk dengan urusanmu, sehingga kau duakanaku
.Kau korbankan menit pertemuan kita dengan semua aktivitasmu, padahal waktu waktu
kita untuk berkomunikasi tidaklah banyak, hanya beberapa menit saja. Kau dahulukan
urusan kantong yang membuatmu bahagia, kau dengarkan bisikan jahat setan dan kau
tepis perkataan lirih hati nuranimu, padahal tahukan engkau?Mereka tertawa terbahak-bahak
karena sukses menggagalkan pertemuan kita. Ku panggilkau 5 kali sehari, tapi satupun
kau gabris panggilanku.
Tidak
ingatkah engkau denganku? Mengapa kau dengarkan bisikan jahat setan yang
menjerumuskanmu? Ku lepaskan kau di dunia.Untuk mencari ridhaku, tapi kau tersesat
dalam lubang kebahagiaan dunia yang tidak hakiki, mengapa kau tidak bias bersabar
sebentar saja untuk mendapatkan kemenangan yang abadi?.Tidak ada kata terlambat
untuk kembali kejalanKu, datanglah, kemarilah padaku, aku tidak akan menutup pintu,
sampai batas waktu yang telah kujanjikan. Jadilah orang-orang yang tersenyum dikehidupan
selanjutnya, aku selalu menyambutmu dengan gembira.
Saudara-saudaraku,
tidakkah kita menyadari, bahwa kita telahdimabuk cinta, menikmati pestapora dunia
yang dapat menjerumuskan kita pada kenistaan dosa, terjebak dalam indahnya sandiwara
dunia, dan lupa dengan kekuasaan Sang Pencipta. Ingatlah, dunia adalah tempat kita
untuk menuai hasil. Mari kita benahi diri, menjadi pribadi yang diridhai Ilahi,
merambat dengan pasti dan merapatkan jiwa meraih kenikmatan abadi yang tak terperi.
Jikalau
seorang hamba itu mendekat padaku sejengkal, maka aku mendekat padanya sehasta dan
jikalau dia mendekat padaku sehasta, maka aku mendekat padanya sedepa, jikalau hamba
itu mendatangi aku dengan berjalan, maka aku mendatanginya dengan bergegas
(HR.Bukhari)
No comments:
Post a Comment